Senin, 22 Februari 2010

arti nilai rapor sang anak

Ibu tak pernah tak datang saat pengambilan rapor. Ibu selalu hadir saat nilai akhir kami dibagikan, apapun kesibukannya. Ibu akan selalu tersenyum dan memberiku selamat setelah menerima rapor, apapun nilainya. Tadinya aku berpikir bahwa mengambil rapor anak adalah hal yang biasa, karena itulah kewajiban orang tua. Belakangan aku tahu, bahwa kesediaan orang tua mengambil rapor anaknya adalah hal yang sangat luar biasa.
Pernah suatu kali ibu terlambat, orang tua siswa lain sudah berdatangan. Ibu belum tampak. Aku ingat, waktu itu aku cemas—menunggu di depan gerbang. Memastikan bahwa ibu tidak salah masuk kelas. Berdoa dalam hati, mudah-mudahan ibu segera datang. Maka mata pun makin awas, memperhatikan orang yang berlalu lalang; memastikan ibu segera datang. Dan ibu tak pernah tak datang. Ibu biasanya akan meminta maaf jika terlambat, tapi ibu tak pernah tak datang untuk mengambil raporku, adik atau mbak. Meski aku tahu, ibu akan datang—menunggu ibu segera muncul saat pengambilan rapor adalah hal yang membuat cemas.
Aku tak tahu bagaimana rasanya saat orang tua tak datang saat pengambilan rapor. Tapi seorang kenalan pernah bercerita, tentang ibu dan rapornya. Ibunya datang saat pengambilan rapor pertama, saat ia belum menjadi juara kelas. Melihat ibu teman-temannya dipanggil lebih awal oleh guru, dipersilahkan maju dan memberi sambutan di kelas—maka ia pun ingin agar suatu saat ibunya juga bisa merasakan hal yang sama; ia ingin membuat ibunya bangga. Maka ia pun belajar dengan lebih rajin, dengan tujuan utama : membuat sang ibu bangga. Pada cawu berikutnya, sang ibu kembali datang saat pengambilan rapornya—meski tak juara satu, si anak naik peringkat. Ibu-ibu lain yang anaknya mendapat juara, tampak mencium anaknya dengan bangga. Si anak pun menginginkan hal yang sama. Dengan penasaran si anak melihat nilai rapornya, “nilainya naik bu … ”, ucapnya penuh kemenangan. “iya … ”, jawab ibu datar. “tapi kamu harusnya bisa lebih dari ini, tuh temen-temen kamu aja bisa”. Yang lebih tampak di pikiran sang ibu adalah anak orang lain, bukn anaknya sendiri. Si anak terdiam, dalam hati ia berpikir; mungkin karena aku belum juara satu, makanya ibu nggak bangga. Maka sang anak pun berusaha lebih keras, target juara satu untuk cawu mendatang. Dan penganbilan rapor pun tiba lagi, si anak berhasil mendapatkan peringkat terbaik di kelasnya. Perjuangan mendaki yang berbuah keberhasilan. Si anak sudah mendengar kabar baik itu, tapi ia ingin melihat bukti langsung di rapornya, melihat angka 1 tertulis di baris peringkat pada rapornya. Dan ia pun menunggu, beberepa menit berlalu, setengah jam berlalu, si ibu belum tampak di sekolah … si anak terus menunggu, acara pembagian rapor sudah dimulai. Namanya dipanggil oleh bu guru di urutan pertama, beberapa kali. Tapi ibunya tak ada. Teman-temannya menyusul, mengajaknya masuk ke dalam kelas. Mengambil sendiri rapornya, dengan tangan mungilnya. Bu Guru memberi selamat, tapi si anak menangis. Menangis hingga semua orang pulang membawa rapor masing-masing, pulang bersama orang tua mereka.
Saat pulang ke rumah, sang anak masih berharap sang ibu akan menunjukkan ekspresi kegembiraan yang luar biasa. Si anak berharap si ibu meminta maaf dan menciumnya, memberikan hadiah atas keberhasilannya. Tapi si ibu hanya tersenyum datar, mengomentari nilainya dan berkata, “tuh kan bisa, coba dari dulu kamu rajin belajar”. Yang lebih tampak di mata sang ibu dalah kekurangannya, bukan kerja kerasnya.
Si anak menangis, marah, menutup diri di kamar. “sejak itu saya mogok belajar, saya belajar bahwa rajin belajar dan menjadi juara bukanlah hal yang penting”. “Waktu itu saya merasa tidak dihargai, justru ketika saya melakukan sesuatu untuk membuatnya bangga”. Pengambilan rapor cawu berikutnya, si ibu datang – justru saat si anak sudah tidak lagi mendapat juara kelas. Kali ini ibunya marah dan kecewa, tapi si anak hanya bilang; “kalau mendapat juara satu tidak membuat ibu senang dan bangga, seharusnya ibu tak usah sedih aku tak lagi juara”.
Seorang teman yang lain, malah memilih untuk tidak memberikan surat undangan pada orang tuanya. Ketika sang guru konfirmasi atas ketidakhadiran sang orang tua, mereka menjawab. “anak saya tidak pernah memberi saya undangan pengambilan rapor”. Dalam hati saya justru bertanya, “mengapa orang tua tidak bertanya pada anak tentang kapan rapornya diambil”. Teman yang lain malah ‘lebih suka’ jika yang mengambil rapor adalah pembantu atau sopirnya, bahkan ada pula yang meminta bantuan tetangga. Mungkin sang anak beranggapan bahwa mereka lebih punya waktu dan akan lebih menghargai nilai-nilai di rapor mereka, setidak-tidaknya mereka tidak akan memarahi si anak.
Bagi anak, pengambilan rapor adalah sebuah momentum. Waktu penting yang tak akan berulang. Hari itu adalah akumulasi dari hari-hari lalu yang penuh perjuangan. Hanya satu hari dalam satu episode penilaian prestasi. Hanya beberapa jam, tak pernah akan terulang. Maka kedatangan orang tua untuk mengambil hasil jerih payah kami, adalah sebuah penghormatan, penghargaan, bukti perhatian dan kepedulian. Bahwa kami, anak-anak adalah penting dan berharga, bahwa usaha kami adalah hal yang penting untuk diapresiasi. Dari sana anak akan belajar menghargai dirinya sendiri.
Mungkin karena ibu seorang guru, maka ibu selalau datang pada waktu pengambilan rapor. Mungkin karena ibu tahu, betapa sang guru merasa perlu berkomunikasi dengan orang tua, mengetahui kondisi anak di rumah, mendiskusikan dengan orang tua langkah-langkah yang bisa diambil untuk peningkatkan prestasi belajar sang anak. Guru hanya punya kesempatan terbatas untuk berkomunikasi dengan orang tua, maka jika kesempatan terbatas itu diabaikan—maka kesempatan untuk memperbaiki makin langka.
Episode pengambilan rapor itu sebenarnya merupakan episode tentang kesungguhan, episode tentang perhatian, komunikasi, penghargaan dan dukungan. Kadang nilai di rapor itu memang tak akan jujur bercerita, tentang kesabaran dan tentang perjuangan anak. Karena itu kita perlu menyusuri hal penting lain yang bernama : proses. Karena memang bukan nilai-nilai di rapor itu yang membuat si anak berharga. Bukan nilai-nilai di rapor itu yang membuat orang tua bangga. Tapi nilai si anak itu sendiri di hadapan orang tua. Bahwa si anak adalah darah dagingnya, amanah Tuhan untuknya, manusia yang perlu bimbingan, kepercayaan, motivasi dan perhatian. Nilai si anak itu sendiri di hadapan orang tua, jauh lebih penting dari nilai yang ada di buku rapor itu. Dan anak akan belajar memahami itu semua, mulai dari menyaksikan kedatangan orang tuanya pada momen penting dalam hidupnya. Melihat dan mencatat dalam memorinya, bagaimana reaksi orang tua tas hasil usahanya. Dari situ ia akan belajar tentang, bagaimana aku seharusnya.
Saat mengambil rapor adalah saat dimana anak butuh teman untuk bicara. Bukan hakim untuk memvonis. Tapi orang tua untuk mendengar, untuk berbagi, untuk bersama-sama menasihati diri. Bahwa rapor yang ada ditangan, nilai-nilai di atasnya, bukan hanya potret kerja sanga anak, tapi juga orang tuanya. Maka ketika bahagia, kebahagian itu bukan hanya untuk si anak. Bahkan ketika hasilnya mengecewakan, maka bukan hanya anak yang bertanggungjawab atas semuanya. Ketika orang tua sedih melihat nilainya, si nak jauh lebih sedih. Maka pengambil rapor dan melihatnya bersama, mendiskusikan hasilnya, adalah kebutuhan bagi si anak dan orang tua.
Saya percaya, setiap anak yang melihat dibalik jendela. Menunggu sang guru memanggil namanya, lalu sang orang tua pun menerima rapornya menginginkan hal yang sama: orang tuanya tersenyum bahagia dan bangga padanya. Tapi kemampuan tiap anak memang berbeda-beda, usaha mereka pun berbeda-beda. Tapi tiap anak punya kebutuhan yang sama : penghargaan. Itulah yang akan membuat mereka menghargai dirinya sendiri (khalida mulyana)