Rabu, 27 Januari 2010

Be Strong

Mendapatkan kekuatan dari kelemahan
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan masing-masing mukmin ada kebaikan.
Bersemangatlah pada apa apa yang bermanfaat bagimu, meminta tolonglah pada Allah dan jangan merasa tidak mampu… (Hr. Muslim)

Kesadaran bahwa kita lemah akan mendorong kita menjadi kuat. Bahwa kelemahan bukanlah takdir. Tapi keadaan yang mesti diperbaiki. Dan kekuatan lebih disukai oleh siapapun, bahkan Allah. Karena dalam kekuatan ada usaha melawan ketidakberdayaan diri. Ada harapan yang mengalahkan keputusasaan. Tetapi kekuatan yang lahir dari keangkuhan, akan roboh karena rapuh. Karena kekuatan itu hanya topeng yang kita gunakan untuk menutupi kelemahan yang tak mau kita akui.
Memiliki kelemahan bukanlah sebuah kesalahan. Maka cintailah kelemahan … bukan membenci, mengumpat-umpat, mengeluarkan banyak sumpah serapah. Itu akan melipatgandakan kelemahan, menyabotase kekuatan yang terpendam.
Kita tak punya waktu untuk mengasihani diri dan tenggelam dalam kesedihan yang panjang. Banyak hal bermanfaat yang harus kita lakukan untuk menyikapi kelemahan kita.
Jika sedih dan bahagia adalah sebuah pilihan.
Mengapa kita tidak memilih menjadi bahagia. Kita punya pilihan …Kita bisa membuat keputusan

  1. Mulai berprasangka baik dan berpikir positif
  2. Mengubah kerutan cemberut jadi senyum. Menarik garis wajah lebih lebar ke samping. Menjadi ramah dan baik pada diri kita sendiri
  3. Bersemangat dan meyakinkan diri kita akan hal baik yang bisa kita lakukan hari ini
  4. Segera beranjak dari posisi badan yang membuat kita malas, mulai melakukan aktivitas yang membuat tubuh kita bergerak. Hingga energy tubuh mengalir ke jiwa, membakar semangat hidup
  5. Bertemu dengan orang-orang yang optimis dan bekerja keras, merasakan kebahagiaan saat mereka bekerja keras. Lalu membiarkan frekuensi semangat itu meradiasi hidup kita.
  6. Mengatakan pada diri kita sendiri untuk mulai berjuang dan berusaha.
  7. Mengucapkan selamat tinggal pada kesedihan dan membuka lembaran baru untuk menjadi bahagia dan bersemangat
Bersemangatlah melakukan hal-hal yang bermanfaat bagimu. Semangat akan mendorong kita mencapai tujuan yang telah kita tentukan. Jiwa yang senantiasa tersenyum dan bersemangat akan melihat kesulitan dengan nyaman, serta berusaha memanfaatkannya. Sedangkan jiwa yang muram akan melihat kesulitan sebagai kesedihan yang tak akan berakhir.

Ibnu Athailah memberi tips lain yang sangat bagus dalam menyikapi kelemahan ini : “tampilkanlah dengan sesungguhnya sifat-sifat kekuranganmu niscaya Allah akan menolongmu dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Bersungguh-sungguhlah dengan kehinaamu, niscaya Allah akan menolongmu dengan sifat kesempurnaan-Nya. Bersungguh-sungguhlah dengan ketidakberdayaanmu, niscaya Ia menolongmu dengan kekuasan-Nya. Bersungguh-sungguhlah dengan kelemahanmu niscaya Ia menolongmu dengan daya dan kekuatann-Nya”
Bersemangatlah dan janganlah loyo.
Teriakkan kata-kata positif dan ucapkanlah berulang-ulang

“hasbunallah wa ni;mal wakiil nikmal maula wa ni;mannashir”
“la hawla wa laa quwwata illa billah hil ‘aliyyul ‘adzim”

Ada Waktu Untuk Aku

“Yuk kita ke pantai”. Lalu ibu membelokkan sepeda motor kami, menuju pantai yang bahkan setelah bertahun-tahun tinggal di kota ini, aku belum mengetahui keberadaannya.

Pantai yang unik. Ada batu karang memanjang, banyak kepiting kecil yang bersembunyi di liangnya. Pantainya putih, ada beberapa sampan kecil di tambatkan di pinggirnya. Hanya berjarak sekitar sepuluh meter, ada pohon-pohon, di sampingnya ada sungai kecil, dan di sebelahnya lagi ada perumahan nelayan yang sederhana.

Ombaknya lembut, berkejaran perlahan. Indah … ibu memakirkan motor dekat rumah penduduk. Lalu kami berdua duduk di sebuah dangau. Berdua saja. Tidak ada makanan yang bisa kami makan, karena perjalanan ini memang tidak direncanakan sebelumnya. Lama kami hanya memandang pantai, lalu aku meninggalkan ibu dan bermain dengan ombak. Tertawa takjub, bahagia menghirup udara laut. Rasanya ada penat yang menguap bersama udara laut. Dilarung bersama ombak.

Ibu membiarkan aku menikmati laut. Beliau di sana, sendiri. Larut dalam zikirnya. Setelah menjelajah pantai asing itu hingga basah, aku kembali. Lalu tiba-tiba saja ada banyak kata yang mengucur deras dari mulutku, tentang rindu, tentang cinta, tentang kecewa, tentang cita atau hanya sekedar obrolan ringan dan cerita lucu. Ibu mendengarkan, tersenyum kadang-kadang. Nyaris tak punya kesempatan untuk bicara, menyela ceritaku. Aku merasa istimewa, didengarkan, diberi keleluasaan. Aku merasa seperti anak ibu seutuhnya, bukan hanya anak kedua dari dua saudaraku lainnya

Sejam berlalu, aku masih bercerita dan ibu masih mendengarkan dengan setia. Kesal dan bosan yang tadinya mengendap di dada, menguap tiba-tiba. Lega rasanya, luar biasa.

Aku lupa, sepertinya tadi ibu mengeluarkan air mata. Terlambat kusadari. Barangkali ibu juga butuh didengarkan, butuh diistimewakan. Matahari makin senja, ibu mengajakku pulang. Sepanjang jalan, dengan kecepatan di bawah 40 km/jam ibu juga bercerita tentang apa saja. Barangkali laut juga telah membuat ibu lega. Atau ibu merasa lega, setelah tahu putrinya merasa lebih baik.

Hari itu aku belajar, kadangkala seorang ibu perlu meluangkan waktu berdua saja dengan seorang anaknya. Menepi sejenak dari riuh anak-anaknya yang lain. Mengenal sang anak lebih dalam. Membuat sang anak tahu bahwa ia bukan hanya ‘bagian’ dari banyak anak-anaknya, tapi ia adalah anak sang orang tua, dalam arti seutuhnya.

Kadang-kadang meluangkan waktu berdua saja dengan sang anak, membuat sang anak juga lebih mengenal orang tua, bukan hanya sebagai orang tua—tapi sebagai manusia seutuhnya. Manusia yang tidak sempurna, tapi manusia yang terus menyempurnakan diri. Sungguh, saat berdua itu—ada memori yang begitu lekat. Menjadi sebuah film nyata kehidupanku yang bernama “kenangan indah”.