“Yuk kita ke pantai”. Lalu ibu membelokkan sepeda motor kami, menuju pantai yang bahkan setelah bertahun-tahun tinggal di kota ini, aku belum mengetahui keberadaannya.
Pantai yang unik. Ada batu karang memanjang, banyak kepiting kecil yang bersembunyi di liangnya. Pantainya putih, ada beberapa sampan kecil di tambatkan di pinggirnya. Hanya berjarak sekitar sepuluh meter, ada pohon-pohon, di sampingnya ada sungai kecil, dan di sebelahnya lagi ada perumahan nelayan yang sederhana.
Ombaknya lembut, berkejaran perlahan. Indah … ibu memakirkan motor dekat rumah penduduk. Lalu kami berdua duduk di sebuah dangau. Berdua saja. Tidak ada makanan yang bisa kami makan, karena perjalanan ini memang tidak direncanakan sebelumnya. Lama kami hanya memandang pantai, lalu aku meninggalkan ibu dan bermain dengan ombak. Tertawa takjub, bahagia menghirup udara laut. Rasanya ada penat yang menguap bersama udara laut. Dilarung bersama ombak.
Ibu membiarkan aku menikmati laut. Beliau di sana, sendiri. Larut dalam zikirnya. Setelah menjelajah pantai asing itu hingga basah, aku kembali. Lalu tiba-tiba saja ada banyak kata yang mengucur deras dari mulutku, tentang rindu, tentang cinta, tentang kecewa, tentang cita atau hanya sekedar obrolan ringan dan cerita lucu. Ibu mendengarkan, tersenyum kadang-kadang. Nyaris tak punya kesempatan untuk bicara, menyela ceritaku. Aku merasa istimewa, didengarkan, diberi keleluasaan. Aku merasa seperti anak ibu seutuhnya, bukan hanya anak kedua dari dua saudaraku lainnya
Sejam berlalu, aku masih bercerita dan ibu masih mendengarkan dengan setia. Kesal dan bosan yang tadinya mengendap di dada, menguap tiba-tiba. Lega rasanya, luar biasa.
Aku lupa, sepertinya tadi ibu mengeluarkan air mata. Terlambat kusadari. Barangkali ibu juga butuh didengarkan, butuh diistimewakan. Matahari makin senja, ibu mengajakku pulang. Sepanjang jalan, dengan kecepatan di bawah 40 km/jam ibu juga bercerita tentang apa saja. Barangkali laut juga telah membuat ibu lega. Atau ibu merasa lega, setelah tahu putrinya merasa lebih baik.
Hari itu aku belajar, kadangkala seorang ibu perlu meluangkan waktu berdua saja dengan seorang anaknya. Menepi sejenak dari riuh anak-anaknya yang lain. Mengenal sang anak lebih dalam. Membuat sang anak tahu bahwa ia bukan hanya ‘bagian’ dari banyak anak-anaknya, tapi ia adalah anak sang orang tua, dalam arti seutuhnya.
Kadang-kadang meluangkan waktu berdua saja dengan sang anak, membuat sang anak juga lebih mengenal orang tua, bukan hanya sebagai orang tua—tapi sebagai manusia seutuhnya. Manusia yang tidak sempurna, tapi manusia yang terus menyempurnakan diri. Sungguh, saat berdua itu—ada memori yang begitu lekat. Menjadi sebuah film nyata kehidupanku yang bernama “kenangan indah”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar